بسم الله الرحمن الرحيم "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ “Janganlah kalian bersikap lemah, dan jangan pula kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (mulia), jika kalian orang-orang yang beriman” (Ali Imran [3] ayat 139) إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا "Dan jika kamu berbuat kebaikan (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri" (Al-Qur'an, Surat Al-Isra: 7) وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُواْ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS Al Imran: 169-170). وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" (QS. 2:154) .............................
Kita telah masuk dalam rumah Islam yang didalamnya telah penuh tersedia segala kebahagiaan dan kecintaan Kita bebas memilihnya dengan pertimbangan hati nurani yang bersih (sesuai alquran dan assunnah) Kita telah bebas dari cengkeraman perbudakan orang lain, akan tetapi kenapa kita masih saja bersedih?
Kita tidak punya uang, kita bersedih... "Kenapa kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sesuatu diluar diri kita?" Alangkah jauhnya kebahagiaan kita jika harus bergantung pada apa-apa selain yang ada pada diri kita, apa-apa yang tiada disisi Allah
Ada seorang sahabat ana, ia mudah sekali bosan Ana tanya padanya... "Kenapa saudaraku menggantungkan kebahagiaan pada mood?" "Kenapa saudaraku menggantungkan kebahagiaan pada teman?" "Lantas kalo teman saudaraku sudah tidak ada, saudaraku mau frustasi?" "Dan kalo saudaraku menderita penyakit akut, hilang juga segala rasa bahagia dalam hati?"
Kenapa kita masih saja suka bersedih, padahal kita umat yang dimuliakan? Selayaknya kesedihan kita, amarah kita, cinta dan benci kita adalah pada selayaknya Segala yang akan mengantarkan pada sebenar kebahagiaan kita Apa-apa yang benar-benar bisa kita miliki... Hanya amalan shaleh yang terpelihara (Allah berkenan menerima) yang benar-benar kita miliki Bukan apa yang bisa kita pegang Bukan pula pada pengharapan sekedarnya
Terinspirasi dari tulisan saudaraku Yanuardi (Persaman dari kisah seorang sahabat yang bertanya)
Attachment: Kenapa Masih Saja Bersedih Padahal Kita Telah Bertauhid.pdf | la tahzan,innalloha ma'ana, bukan begitu pak?? syukrona atas ingatannya |
 | Iya "Anugerah iman = segala-galanya" |
 | Jika yang diinginkan atau seharusnya bahagia, tapi ternyata keadaan yang ada adalah sedih atau tidak bahagia, maka sepertinya ada yang menghalangi untuk bisa melihat akhir atau idealnya. Sudah menjadi hal mendasar bahwa mereka yang masih sedih itu perlu pencerahan, pembukaan pikiran jiwa dan raga. Ataukah kitanya juga yang belum mampu membuka pikiran jiwa dan raga kita sendiri untuk mampu menjelaskan kepada mereka hingga gamblang sehingga serta merta mereka bisa melihat kebahagiaan? |
 | Memang independent (tidak bergantung) itu lebih baik daripada dependent (bergantung). Tetapi Independen hanya mampu mencapai ketinggian sekian. Kalau mau lebih tinggi lagi, maka tidak bisa lagi memakai Independent, tetapi memakai Interdependent. Nah ini lah yang mendasari perlu adanya dakwah, bahkan ini menjadi dasar surah Al Ashr terutama ayat terakhir. Siapkah kita menjadi orang yang beruntung di mata Allah? |
 | wah, teman yang diceritakan tuh, kayaknya sy... tergantung 'mood'. |
 | ni2s wrote on Feb 21, '08 Kita tidak punya uang, kita bersedih... Kenapa kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sesuatu diluar diri kita?. Alangkah jauhnya kebahagiaan kita jika harus bergantung pada apa-apa selain yang ada pada diri kita dan apa-apa yang ada disisi Allah
Ana pernah dapat teman dia suka sekali bosan, saya tanya padanya... Kenapa kamu menggantungkan kebahagiaanmu pada mood? Kenapa kamu menggantungkan kebahagiaanmu pada teman? Lantas, kalo teman kamu sudah tidak ada, kamu mau frustasi? Dan kalo kamu menderita penyakit akut, hilang juga segala rasa bahagia dalam hatimu?  ternyata masih teramat sering diri ini lena & lalai karena sudah terlalu banyak dicekoki nilai-nilai materialis bahwa kebahagiaan hdp adalah berlimpah materi & memuaskan kepentingan jasadi |
 | arrohwany wrote on Feb 21, '08, edited on Feb 22, '08 Sudah menjadi hal mendasar bahwa mereka yang masih sedih itu perlu pencerahan, pembukaan pikiran jiwa dan raga >>> Tiada kesediahan sesungguhnya, kesedihan hanyalah karena berkurangnya agama kita. (berkurangnya ketaatan kita) Ataukah kitanya juga yang belum mampu membuka pikiran jiwa dan raga kita sendiri untuk mampu menjelaskan kepada mereka hingga gamblang sehingga serta merta mereka bisa melihat kebahagiaan? >>> Kebahagiaan kita sendir masing-masinglah yang perlu mencari... Segala dakwah dan ilmu yang ita berikan adalah wasilah, namun Allah jualah sang penguasa Akankah hidayah diberikan ataukah tetap dalam kejahilan "Firman Allah: "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.."(Al-Kahfi : 17) |
 | Assalamu'alaikum Ikhwatii fillah!!! Alhamdulillah wa syukron min qolbin khoollisin... postingan yang ahsant... semoga bisa memberi kita kemanfaatan dan kefahaman dengan membacanya...
Kata2 Hikmah buat renungan bersama...
"Bagaimana akan dapat terang hati seorang yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa atau cermin hatinya. Atau bagaimana akan pergi menuju kepada Allah, padahal ia masih terikat (terbelenggu) oleh syahwat hawa nafsunya. Atau bagaimana akan dapat masuk kehadirat Allah s.w.t., padahal ia belum bersih (suci) dari kelalaiannya yang disini diumpamakan dengan janabatnya. Atau bagaimana mengharap akan mengerti rahasia yang halus (dalam), padahal ia belum taubat dari kekeliruan kekeliruannya."
Firman Allah s.w.t. :- "Bertaqwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkan kepadamu segala hajat kebutuhanmu."
Rasulullah s.a.w. bersabda :- "Siapa yang mengamalkan apa yang telah diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya pengetahuan apa apa yang belum ia ketahui."
Semoga hari2mu senantiasa dibawah naungan dan limpahan RahmatNya serta LindunganNya Allah s.w.t keatasmu... Ameen ya robbal 'alamin... Insya'allah Met beraktivitas hariannya serta ceriah selaluuu dengan bertambahnya keimanan dan ketaqwaan kita ke hadratNya... Insya'allah... Wassalam dari Siti Nur Fazurah... *senyum selaluuu*....<(^_^)> |
 | "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik" (Al Maidah : 49)  Kalau tidak salah, sebelum ayat di atas adalah ayat :
Al Maa'idah (5) : 47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya[419]. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik[420].
Al Maa'idah (5) : 48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,
Kalau tidak salah, ayat itu bercerita tentang umat nabi Isa ya? Ya setuju banget lah bahwa kita jangan mengikuti yang bertentangan dgn tuntunan Allah. Nah kalau yang ternyata sesuai dengan tuntunan Allah? Walau itu ternyata ditemukan oleh orang lain? |
 | arrohwany wrote on Feb 22, '08, edited on Apr 25, '08 Assalamu'alaikum Ikhwatii fillah!!! >>> Wa 'alaikum salam warah matullahi wabarakatuh >>> Ana ikhwan jadi cukup ikhwah fillah (bentuk jama'-nya)
Alhamdulillah wa syukron min qolbin khoollisin... postingan yang ahsant... >>> Segala kebaikan dari Allah-lah datangnya semoga bisa memberi kita kemanfaatan dan kefahaman dengan membacanya... >>> Aamiin, dan sekiranya ada kesalahan segera mohon dikoreksi dan memohon maklum, semoga allah mengampuni hamba-Nya yang lemah ilmu ini
Kata2 Hikmah buat renungan bersama... "Bagaimana akan dapat terang hati seorang yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa atau cermin hatinya. Atau bagaimana akan pergi menuju kepada Allah, padahal ia masih terikat (terbelenggu) oleh syahwat hawa nafsunya. Atau bagaimana akan dapat masuk kehadirat Allah, padahal ia belum bersih (suci) dari kelalaiannya yang disini diumpamakan dengan janabatnya. Atau bagaimana mengharap akan mengerti rahasia yang halus (dalam), padahal ia belum taubat dari kekeliruan kekeliruannya." >>> Sahabat Ali karramallahu wajhah pernah berdoa "ya Allah jadikanlah dunia berada di tanganku, jangan jadikan dunia di hatiku" ('afwan kesahihan sumbernya kurang tahu) "Barang Siapa yang menjadikan Akhirat sebagai harapannya, maka Allah akan memberikan kepuasan dalam hatinya, menghimpun segala impiannya, dan dunia pun akan mendatanginya dengan merunduk. Barang siapa yang menjadikan Dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, membuyarkan segala impiannya, dan dunia pun tidak akan mendatanginya melainkan apa yang telah ditentukan baginya." (HR. Turmudzi)
Firman Allah :- "Bertaqwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkan kepadamu segala hajat kebutuhanmu." >>> Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang sebenar bertaqwa ditiap saatnya Rasulullah s.a.w. bersabda :"Siapa yang mengamalkan apa yang telah diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya pengetahuan apa apa yang belum ia ketahui" >>> Semoga kita semua termasuk hamba yang rasulullah sebut tersebut
Semoga hari2mu senantiasa dibawah naungan dan limpahan RahmatNya serta LindunganNya Allah keatasmu... >>> Aamiin ya robbal 'alamin...
Met beraktivitas hariannya serta ceriah selaluuu dengan bertambahnya keimanan dan ketaqwaan kita ke hadratNya... Insya'allah... >>> Semoga, Aamiin Wassalam dari Siti Nur Fazurah... *senyum selaluuu*....<(^_^)> >>> Wa 'alaikum salam warah matullahi wabarakatuh >>> Jazakillah atas segalanya saudariku Siti Nur Fazurah, Allah sebaik-baik pemberi balas >>> Saudaramu dijalan Allah yang berusaha mencinta dan membenci karena Allah: Muhammad Ulinnuha >>> Barrakallahu fik..., semoga kebaikan dan hidayah senantiasa bersama saudariku |
 | arrohwany wrote on Feb 22, '08, edited on Feb 22, '08 "Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S. AL-ANAM 165) "Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga dia mengubah apa yang ada dalam diri mereka" (Surah Ar-Raad: 11 ) |
 | terus apa yang harus kita lakukan kalau tiba2 hati kita di rundung kesedihan dengan segala permasalahan yang membebani batin kita dunk...padahal kita dah brusaha mencoba ihklas tapi rasanya kok masih sesak dihati yach.. |
 | arrohwany wrote on Feb 22, '08, edited on Feb 22, '08 terus apa yang harus kita lakukan kalau tiba2 hati kita di rundung kesedihan dengan segala permasalahan yang membebani batin kita dunk...padahal kita dah brusaha mencoba ihklas tapi rasanya kok masih sesak dihati yach..  >>> Berusaha memantapkan keikhlasan dan ketundukan kita: - Menyebut-nyebut nikmat Allah beserta ciptaan-Nya yang begitu banyak tiada putus-putusnya
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Al imran: 191) - Mengingat syukur kita takkan pernah cukup sedang nikmat dan kasih-sayang Allah terus mengalir
- Mengingat, kitalah yang sering menjadi pembantah Allah, maka berusaha melunakkan hati dan bertaubat
“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata” (Annahl: 4) - Tidak mengadu, berkeluh-kesah kepada manusia cukup Allah tempat sebak-baik berkeluh-kesah sedang semua itu dari Allah jua datangnya
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (22) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri(23)” Maksud jangan terlalu gembira adalah gembira yang telah melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, takabbur, dan lupa kepada Allah - Tetap bersyukur sebab masih begitu banyak nikmat yang senantiasa Allah berikan serta tidak berputus asa dari rahmat Allah
“…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (Yusuf: 87) - Mengangap ringan segala musibah sambil mengingat kematian, sebab jika mengingat kematian kala musibah akan melapangkan rizqi sedang jika dilupakan saat kita lapang akan tertimpa kesusahan
“…Jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian…"” (Al maidah: 106) - Dalam tiap ujian dan musibah ada hikmahnya, nikmat dan pelajaran dari dari Allah-lah datangnya
~ Setelah kesulitan ada kemudahan “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Al insyirah: 5) - Musibah dan ujian hendaknya semakin mengokohkan diri kita dan membuat kita senantiasa lebih kuat dan waspada dan jangan sampai pernah jatuh dalam lobang dua kali
“Tidak pernah satu musibahpun menimpa diriku kecuali Allah akan memberiku 3 nikmat; musibah itu tidak berkenaan dengan agama, tidak lebih besar dari yang sebenarnya dan Allah akan memberiku nikmat kesabaran” (Umar bin khattab) - Ingat Allah senantiasa menguji hamba-hamba-Nya, melihat sejauh mana kesabaran hamba-hamba-Nya
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al baqarah: 155) - Sebuah tanda jika Allah hendak melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” - Allah hendak memilih siapa yang layak mendapat karunia syurga dan siapa yang tidak layak
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar” (Al imran: 142) - Mengingat-ingat ayat ini:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Al baqarah: 286) - Mengingat kesulitan dan kesusahan akan Menghasilkan ilmu dan pengalaman, sumber ilmu yang tiada habis-habis, hidup di atas hikmah adalah seperti hidup dibawah naungan pelita yang cahayannya akan terus bersinar benderang
“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Al baqarah: 269) |
| |