بسم الله الرحمن الرحيم
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"
[Sebuah Renungan Mendalam]
Jalan Menggapai Kebahagiaan Hidup
Ada dua hal yang umumnya kita (manusia) kejar dalam hidup ini;
Yang pertama adalah kebaikan (al-khair),
Dan yang kedua adalah kebahagiaan (as-sa’adah).
Namun sayang, justru kebanyakan kita hanya terbuai prasangka, mengejar pada kesenangan sesaat didunia dengan menunda-nundanya (menumpuknya) dan bukanya keduanya (dunia dan akhirat) dengan menjadikan disetiap saatnya, saat-saat yang begitu membahagiakan; menikmati tiap waktu yang Allah masih sediakan (amanahkan) dengan penuh keindahan (jalan kebaikan)…
Padahal Kenikmatan Akhirat Adalah Kenikmatan Sebaik-baiknya, dan Pahala Disisi Allah (di diakhirat) Adalah Lebih Baik
Maka mari berusaha agar kelak bisa kembali pada Allah dengan tenang (selamat), dan mari kita lakukan mulai sekarang…

“Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui” (Q.S. AL-BAQARAH:103)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya senda gurau dan main main belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenar-benarnya, kalau sekiranya mereka mengetahuinya” (Al-’Ankabut: 64)
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Hai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya (28) Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku (29) dan masuklah ke dalam surga-Ku (30)“ (Al Fajr:27-30)
Diantara fadhilah juga:
- Hanya kepada Allah tempat kembali semua perkara
- Hanya dihadapan Allah-lah yang terbaik
Kita sering mengira bahwa dunia ini benar-benar akan mencukupi kita, akan hidup selama-lamanya didalamnya, dunia beserta kesenanganya seakan-akan menjadi cita-cita serta segalanya
Mengira segala kesibukan mengejar dunia yang kita lakukan sehari-harinya akan benar-benar membahagiakan kita (berpikir pendek dan sempit)
Kita seringkali terbuai kesenangan sesaat yang semu (fana); hanya menumpuk-numpuk tanpa pernah sempat mencicipi kenikmatanya, sedang mulut dan waktu yang telah Allah berikan takkan lebih dari ukuranya,.
Kita sering lalai terus menumpuk menghabiskan umur-umur kita tanpa peduli cara yang kita gunakan (halal-tidaknya)
Padahal rizqi telah Allah tentukan takkan lebih dari kadar-Nya (ketentuan Allah),
Sedang cara yang kita gunakan itulah jalan kebahagiaan kita sesungguhnya, bukan pada penampakan (harta) yang bisa kita pegang/dapatkan…
Mari kita mengingat…
Allah Telah Menjamin Rizqi Semua Makhluq-Nya dan Semua Rizqi Telah Ditentukan-Nya

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Hud: 6)
Mari merenung… Kesenangan Didunia Ini Hanyalah Sebentar (mata’un ila hiin) Sedang Akhirat Abadi dan Lebih Baik


“… Katakanlah: "Kesenangan didunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun” (An nisa’: 77)
Jangan sampai kita terus terbuai segala kemuliaan (dunia) yang hanya akan memberatkan anak-cucu kita dengan begitu cintanya pada dunia. Sedang mereka hanya akan menjadi penghamba dunia yang lemah (pencari dunia yang malas) karna warisan kelalaian kita.
Melupakan, bahwa prestasi mereka adalah karna kekuatan yang mereka usahakan, bukan karna fasilitas dan keturunan yang akan membuat lalai…
Mari kita memperhatikan diri kita saat ini…
Kita seringkali terus tergiur dari kelalaian satu pada kelalaian selanjutnya tanpa kritis,
Bahkan kita seringkali meremehkan kehidupan kita saat ini,
“Teruntuk menjemput kebahagiaan yang ada pada tiap saat (seluruh deret waktu) yang Allah berikan…“
Setiap saat yang akan menuju jalan kebahagiaan abadi diakhirat kelak
“Dengan senantiasa beramal shaleh, menghisab diri, serta berlaku sebagai seorang hamba yang benar beriman setiap saatnya, dalam senang dan susah…“
“Perjuangan kita ada pada tiap saatnya, yaitu saat ini yang tiada habis-habisnya sehingga Allah mernghendaki akhir umur kita…“
Allah telah memperingatkan...

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdaya kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah” (Fathir: 5)
************************************************************************************************************
Mari kita merenung sejenak, meluangkan waktu beri’tikaf dimasjid untuk diam bertafakkur, mempertimbangkan segala keseharian kita, melihat segala sesuatunya dengan lebih jernih…”
Wahai diri…
- “Mari menyadari, hikmah kemuliaan yang Allah berikan senantiasa ada pada tiap saatnya…”
- “Mari berusaha selalu menyadari apapun yang sedang kita rasakan dan hadapi, saat ini…”
- “Mari berusaha selalu sadar untuk menguasai hawa nafsu, berjalan menuju kebaikan dan hikmah…”
- “Mari membiasakan senantiasa mengingat keagungan Allah, mengembalikan segala urusan pada-Nya dan terus belajar untuk bisa berjalan istiqomah pada jalan-Nya (jalan keimanan yang shahih), kosongkan (netralkan) emosi rendah dan perasaan kita satu arah menuju kebahagiaan disetiap saatnya…”
- “Mari belajar menetralkan pikiran kita (menenangkan diri - tiada berprasangka), lepaskan pikiran kita yang sibuk dari dunia menuju yang paling membahagiakan disisi Allah disetiap saat…
- Jalan sunnah rasulullah; "jalan istiqomah dalam ilmu dan amal…"
- “Mari membiasakan menetralisir (menata hati-mengatasi emosi) dari segala rasa ingin, gelisah, amarah, suka-benci, berpikir dan merasa, bertutur kata, tertawa, senang dan rasa akan dunia ini dengan mengingat:
- “Apa yang ada disekitar kita saat ini adalah disengaja Allah sebagai ujian dan amanah, mari kita manfaatkan menuju jalan kebaikan yang sah disisi Allah (sesuai syariat), dan kita tujukan menuju jalan iman (liwajhillah - satu arah menuju keridhaan Allah)”
- “Mari membiasakan diri kita tetap tenang; menyadari, mengawasi, memahami dan mengarahkan emosi dan pikiran kita menuju jalan yang lebih tinggi dan benar disisi Allah
- “Biarkan pikiran kita mengendap, diri tetap bebas berlepas dari segala apapun selain kepada Allah, berserah pada jalan kemuliaan islam”
- “Mari menyadari, rindu dan keinginan dunia seringkali menghambat fitrah nurani kita teruntuk berjalan dijalan ilmu, sedang kesenangan dan tawa seringkali membuai membahayakan diri kita (membawa terus berpuas diri)”
- “Berusaha senantiasa menata hati, memperbaiki diri dan membersihkan jiwa (tazkiyatun nufuz) dengan sungguh-sungguh disetiap saat, menahan diri hingga terbebas dari keburukan-keburukanya”
- “Berusaha menerima konflik dan masalah tanpa sedikitpun terpengaruh (dikuasai) olehnya”
- “Coba tenang sejenak; pahami tentang: lingkungan kita, aktivitas (kesibukan) setiap hari, waktu senggang kita, serta apa yang sering kita perhatikan dan yang menuntut perhatian kita, serta dengan siapa teman dan sahabat yang sering kita temui dan sukai beserta pengaruhnya pada diri kita dan juga pengaruh diri kita pada mereka”
- “Lepaskan diri kita dari emosi negatif (nafsu), pengaruhnya dan wasilah yang membawannya”
************************************************************************************************************

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” (Al ankabut: 41)
Mari merenungi firman Allah tersebut; bahkan dengan bekal akal yang telah Allah berikan, pasti akan mengakui:
- Dengan adannya kita (makhluq) berarti adannya sang pencipta kita (khaliq) dan ini adalah bukti kokoh akan fitrah keimanan
- Siapapun dia, orang kafir sekalipun pasti mengakui akan adanya dzat yang menciptakannya, yang menguasaainnya, yang memeliharannya
- Akal dan kemampuan manusia beserta alat yang mampu ia gunakan memang terbatas bahkan kadang akalnya sering bertentangan dengan inderannya sendiri, bukti akal (aqli) adalah:
- Kalau kita berdiri diujung jalan yang lurus, kita akan melihat bahwa jalan didepan semakin jauh makin sempit buntu ujungnya menurut pendapat mata, padahal yang jelas jalan didepan kita sampai diujungnya hampir sama lebarnya hanya penglihatan kita yang terbatas kemampuannya, demikian juga dengan indera dan peralatan yang lain
- Kalau kita berdiri ditepi laut, diujung sana seperti terlihat antara langit dan laut bertemu padahal menurut akal tidak begitu, hanya kemampuan indera penglihat kita yang terbatas, dan Allah memang telah sengaja menciptakan keterbatasan tersebut
- Sebagaimana indera dan alat manusia yang terbatas, kemampuan akal manusia juga terbatas, bukti akal (aqli) lagi seperti berikut:
- Dulu manusia hanya bisa berpikiran bahwa planet bumi ini datar karna memang warisan (keumuman pendapat) yang kita terima dari dulu seperti itu
- 1 x 1 = 1 dan 2 x 2 = 4
1 + 1 = 2 dan 2 + 2 = 4
10 x 10 = 100 dan 100 x 10 = 1000
10 + 10 = 20 dan 20 + 20 = 40
Ini adalah permainan logika angka yang kita yakini kebenarannya padahal apa yang sebenarnya kita hitung tidak tahu hakekatnya.
1 trilyun x 1 trilyun = ~ (tak terhingga>>> kurang tahu akal kita secara langsung)
Kita hanya mampu menyebutnya dengan tak terhingga sebagai bukti akan adannya, namun akal tiada mampu menghitungnya karna memang terbatas dan membutuhkan kelebihan dari alat tertentu
- Berdasar akal alam dan isinya pasti ada yang membuatnya tapi manusia takkan pernah mampu untuk mengetahui hakekat apa yang kita yakini itu, sedang jika kita berubah tidak percaya berarti kita tidak jujur dengan akal kita sendiri
Maka mari kita mengakui…

“Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetalutan, kecuali hanya sedikit” (Al-Isra’: 85)

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan bersifat lemah” (An-Nisa’: 28)
Imam Syafi’e rahimahullah pernah berkata:
“Akal mempunyai batas tempatnya berhenti, sama seperti penglihatan mempunyai batas tempatnya berhenti”
Maka kita butuh adannya wahyu dan diutusnya para rasul…

“Rasul-rasul, yang memberi khabar gembira dan memberi peringatan, agar supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah kepada Allah, sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. Dan Allah adakah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (Surah An-Nisa’: ayat 165)
Maka mari kita merenung kembali…
- Jadi bukan berarti apa yang tidak mampu kita pikirkan dari segala keterbatasan yang kita miliki itu tidak ada, sebab justru itulah bukti kesombongan kita; sebab manusia hanyalah makhluq kecil diantara alam semesta ini dan begitu lemah dengan keterbatasannya sedang Allah adalah yang menciptakan segala-galannya, yang menguasai dan memeliharannya, yang tiada batas kemampuan-Nya
- Maka sekiranya tidak masuk akal, jangan kita memaksakan masuk ilmu Allah yang tiada terbatas pada akal manusia yang begitu terbatas, sebab akal manusialah yang seharusnya tunduk bersembah pada apa yang Allah tunjukkan dengan ilmu-Nya (alquran yang dijelasan dengan hadist rasulullah)
- Baik manusia sudah bisa menjangkaunya maupun belum, kita wajib meyakini kebenaran yang telah ditunjukkan Allah
- Maka mari kita kembalikan semuanya pada petunjuk-Nya (ilmu) yang benar dan selamat (bukan jalan lain yang mencerai-beraikan), yaitu:
- "Alquran dengan penjelasan dan contoh dari rasulullah shallalhu ‘alahi wasallam serta pemahaman para sahabat yang Allah telah meridhai mereka dan memuliakan mereka dan benar-benar menjadikanya sebagai pegangan dalam tiap sisi kehidupan kita"

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)” (Al Ankabut: 61)
Mengabdi Kepada Allah Adalah Satu-satunya Jalan Menuju Kedamaian dan Keselamatan Jiwa Itu Sendiri, serta Bekal Menuju Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat

“Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati” (Al Baqarah: 139)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Q.S. AL-BAYYINAH:5)

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Ruum: 30)
Maksud fitrah Allah disini adalah ciptaan Allah;
- Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Dan jika tidak beragama tauhid itu adalah bentuk penyimpangan yang tidak wajar dan harus diluruskan (penjelasan dari program Holy Quran dari Assakhr)
Diantara fadhilah juga:
- Islam adalah agama para nabi
- Islam adalah agama fitrah, semua manusia disemua masa dan zaman
- Manusia pada awalnya menjalani kehidupan ini dalam keadaan bersih, suci dan terbebas dari cela serta siap menerima kebenaran
- Setiap perubahan yang terjadi pada fitrah kesucian itu adalah aib yang menghapus kepribadian seorang muslim
- Menjalankan fitrah kemanusiaan haruslah tetap berada dalam jalur agama (pedoman fitrah), sebab jika tidak akan mendatangkan fitnah dan kebinasaan bagi manusia itu sendiri
- Beraqidah secara benar adalah bukti kebenaran kepribadian seorang muslim
- Berusaha senantiasa ikhlas dalam berbuat
Maka mari kita bersyukur;
“Kita telah mendapatkan sebaik-baik nikmat; masuk sebagai hamba yang berserah diri (islam) dan beriman dengan benar, bisa memahami (menyadari) diri kita sendiri kepada sang pencipta kita; Allah ‘azza wa jalla”
Sebab banyak diluar sana orang yang kafir dan orang yang berlaku sebagai seorang yang kafir

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya)” (Al Ankabut: 63)
Mari kita menyadari…
Kita telah diberi Allah bekal nurani kebaikan dihati kita, sebagai fitrah yang telah Allah berikan didalam diri kita;
“Mana yang akan menggelisahkan dan menyiksa jiwa hanyalah dosa-dosa yang akan mengotori diri kita,
Dan mana yang akan menentramkan dan membahagiakan diri kita adalah dengan beramal shaleh dan menunaikan kebaikan yang benar sesuai petunjuk Allah (dari alquran dan assunnah)…
Mari kita membiasakan menyimak kata hati kita sendiri, dan menentramkanya dengan amalan baik kita. Semoga Allah berkenan menerima amalan-amalan kita… Aamiin...
Maka jangan sampai kita lalai…
Tujuan Allah Menciptakan Hamba-Nya

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Addzariat:56)
Diantara fadhilah:
- Kewajiban hamba menyembah beribadah kepada Allah dan tiada menyekutukan-Nya dengan suatu apapun
- Kita adalah seorang hamba (makhluq) ciptaan Allah
- Semua hamba-Nya diberi tanggung jawab dan mau tidak mau harus menanggungnya dihadapan Allah
- Peneguhan bahwa Allah memerintahkan makhluqnya hanya untuk taat kepada-Nya
- Diantara makhluq Allah adalah manusia dan jin
- “Mengakui akan adannya rabb (Allah) yang menciptakan dan menguasai seluruh makhluq serta bertauhid akan keesaan-Nya sudah menjadi fitrah dan suara nurani yang diberikan kepada tiap makhluk-Nya"
- Dan manusia siapapun juga tanpa terkecuali telah diberikan fitrah untuk mencari ketuhanan hakiki, pegangan hidup yang pasti, yang mampu mendamaikan hati dan nuraninya serta memberikan arah dan pandangan hidup yang jelas dan benar.
- Manusia butuh penolong akan yang menciptakannya, kekuatan hakiki yang menguasainnya dan yang menjaminnya. Sebuah dzat yang takkan pernah bisa dijangkau akal dan kekuatannya, dan kepercayaan yang hanya benar jika disandarkan pada yang menciptakannya.
- Dan tanpa itu semua manusia takkan bisa lolos dari jeratan rasa takut, was-was dan ketidak-pastian sehingga jiwannya akan selalu labil, terpontang-panting sekuat apapun manusia itu.
- Dan itulah muara kehancuran manusia, jiwa yang semakin kerdil dan hidup yang gersang tiada bebas, kecongkakan dan keserakahan, terperangkap pada jaring perangkap dari keterbatasannya sendiri dan terhempas (terlena) kepada sesuatu yang selain Allah.
- Baik berupa harta, pangkat, tahyul, hawa nafsu, dan segala kebodohan dari keterbatasan manusia yang tidak pernah puas-puasnya.
- Jiwanya akan terus menuntut dicarikan jawab; "mengapa ia hidup, mengapa ada didunia ini, mengapa ia terlahir, mengapa ia harus akan mengalami mati, dan mau kemana setelah ini?"
- Sedang keberadaan dan ketiadaan kita didunia inipun bukan karna kehendak kita sendiri
Mari kita berusaha menjadi seorang manusia yang bijak (hikmah), semisal dengan mengingat bukti sejarah masa lalu bangsa-bangsa yang telah Allah musnahkan;
Peradaban yang menemui ajal karna berpegang pada…
Hedonisme (kefanaan: mempertuhankan kenikmatan sesaat didunia ini, mengutamakan dirinya dan keinginanya padahal Allah telah sengaja membatasi nikmat didunia ini, berlebihan sedikit saja malah akan berbuah sengsara),
kekufuran (mengingkari kekuasaan Allah, sedang Allah yang menciptakanya),
Kesyirikan (menyekutukan Allah dengan pengagungan selain-Nya yang hanya layak untuk-Nya),
Atheisme (mengingkari adannya Allah yang telah menciptakanya),
Sosialisme (mengagung-agungkan peran dari keterbatasan yang ada pada diri manusia),
Liberalisme (mengagung-agungakan kebebasan yang semakin menjerumuskan manusia),
Fasisme (kebanggan rasial yang merusak kaum yang lain)
Yang kesemuannya semakin menjauhkan nilai kita sebagai seorang manusia yang Allah muliakan sehingga bermuara menuju kehancuran manusia itu sendiri dan dunia ini.
Sesuatu yang sama-sama fana seharusnya kita jadikan alat teruntuk kebaikan dan memperbaiki diri kita serta teruntuk kebaikan bersama,...
Bukanya malah ikut hancur (fana) bersamanya, malah dipertuhankan dan terbuai sehingga dikendalikan olehnya,..
Maka iapun kehilangan segala-galannya; baik ia yang duluan ataupun apa yang ia sembah, ia dengung-dengungkan dan ia genggam erat selama didunia ini”
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِين
َ
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)
Sebuah hikmah amaliah berharga…
- Berusaha senantiasa meneguhkan (memperlihatkan/mendzahirkan) bukti keimanan kita dalam (amaliah) sehari-hari
- Berusaha menjadi golongan ummat yang benar-benar mengikuti teladan rasulullah (dalam harap, doa, ucapan dan amaliah)
- Berusaha senantiasa beramal dengan hujjah yang kuat (berdasar ilmu/addalil dan mengilmuinya)
- Bukan sejedar seorang lemah yang ikut-ikutan yang akan menjatuhkan pada gaya hidup jahiliah.
- Apalagi jika tidak tahu dan tidak berhati-hati (menjaga diri) dari perilaku jahiliah dan hal yang sia-sia
- Bersifat relatif (fana), dan
- Rapuh (sekedar nafsu yang menyenangkanya sesaat atau prasangka dan keumuman)
- Dari sinilah awal jatuhnya manusia dalam ma’syiat dan kesyirikan. Dan inilah gaya hidup orang kafir
- Mengikuti rasulullah dalam tiap sisi kehidupan beliau (gaya hidup sunnah) dengan berdasar ilmu dan landasan tauhid yang kuat (gaya hidup orang beriman/islami), bergaul (merekatkan diri) dengan orang-orang yang shaleh (pergaulan nasehat)
- Berusaha senantiasa menyucikan keagungan Allah
- Berusaha berhati-hati dari segala hal yang bisa menjatuhkan kita dalam amaliah orang-orang musyrik, sadar ataupun tidak
- Bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap muslim, dan gaya hidup jahiliah adalah haram baginya
- Maka wajib pula mengetahui seperti apa saja perilaku jahiliah tersebut yang ada dalam keseharian kita, (silahkan baca kitab Masail Jahiliyyah)
Namun dalam kenyataan kita saat ini justru membuat kita sangat prihatin dan menyesal. Sebab justru gaya hidup jahiliah (yang diharamkan) inilah yang melingkupi sebagian besar umat Islam saat ini
Hal ini persis seperti yang pernah disebut Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam…
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِيْ بِأَخْذِ الْقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّوْمِ. فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَـئِكَ. (رواه البخاري عن أبي هريرة، صحيح).
“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah , shahih).
لَتَتَّبِعَنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى. قَالَ: فَمَنْ. (رواه البخاري عن أبي سعيد الخدري، صحيح).
“Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka”. Kami bertanya,”Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa lagi?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri, shahih).
Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman dimana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian islamnya karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain
Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup yang lain
Bahkan sejak ia bangun tidur hingga kembali tidur, mereka terus mengisi dari kesenangan menuju kesenangan berikutnya dari gaya hidup tersebut tanpa kritis
Demikian pula didikan yang mereka dapatkan dari kecil juga lingkungan mereka dan informasi yang mereka serap disetiap saatnya,
Akhirnya memupuk mereka menjadi seorang yang lemah jika tidak berusaha menjadi seorang muslim yang kuat (menjaga diri terus belajar dan beristiqomah)
Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami pada seorang yang mengaku muslim
Sebab apalah artinya mengaku sebagai seorang islam kalau gaya hidupnya tak lagi islam (persis seperti orang kafir) bahkan merusak (agama)nya, menjadi beban, dan mendakwahkan keburukan dan bukanya nasehat (agama adalah nasehat)
Inilah bencana kepribadian yang paling besar ummat islam saat ini
Mari kita perhatikan orang-orang sekitar kita, terutama pada diri kita sendiri...
Kita termasuk golongan yang mana?...
Hanya ada 2 golongan didunia ini:
Hizbullah dan Hizbus Syaithan
Dalam keseharian kita dan apa yang kita lakukan saat ini,
“Kita termasuk golongan yang mana?“...
Mari kita menyadari,
“Mengapa kita begitu jauhnya berusaha menyadari dan menguasai apa-apa yang ada diluar diri kita dari dunia ini, sedang kepada fitrah dan diri kita sendiri kita buta (bodoh) dan lemah…“
Salah satu kesempurnaan seorang hamba yang beriman adalah dijauhkan dari segala apa yang kurang bermanfaat baginya
Mendahulukan yang lebih utama (prioritas) baginya sebagai seorang hamba yang beriman…
Apakah kita rela, dicap hanya sebagai seorang pembohong dan pembual belaka?, sedang Allah Maha Mengetahui…
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda…
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. (رواه أبو داود وأحمد عن ابن عباس).
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu hasan)
Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi seperti mereka.
Lalu dalam hal apakah tasyabbuh itu?
Al-Munawi berkata: “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”
Tentu dalam lingkup pembicaraan tasyabbuh ini cukup luas, namun terutama mari kita mewajibkan diri kita memprihatinkan diri kita sendiri dan kondisi umat saat ini.
Bagaimanapun juga selama kita masih bernafas dan berinteraksi dengan orang lain didunia ini berarti kita berperan jua mendakwahkan padanya (mempengaruhi dan mengajak)
“Apakah niat, ucapan, dan perilaku kita sehari-hari mendakwahkan kebaikan ataukah sekedar hal sia-sia yang Allah-pun akan membuat umur dan akhir hidup kita sia-sia?“
Mari mengingat kewajiban sebagai seorang muslim untuk belajar, mengamalkan, serta mengajarkanya (mendakwahkanya), selama Allah masih mengamanahkan nafas dalam hidup kita…
“Apakah kita rela menjadi seorang yang kurang berharga didunia ini dan hanya menjadi beban (masalah) didunia ini?,"
"Sedang pertanggungan-jawab pasti akan Allah minta pada tiap nikmat yang telah Allah amanahkan pada diri kita setalah Allah mencabut nikmat-Nya“
Salah satu contoh diantara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian Muslimah
Mungkin sekilas kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana muslimah telah mulai bersaing dengan mode busana jahiliyah.
Namun perhatikan seksama mana busana muslimah yang memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at.
Busana yang mereka pakai masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah.
Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya (yang mayoritas muslim ini) malah nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum yang tidak mengekspose aurat tersebut.
Kalau tidak memper-tontonkan aurat karena terbuka, maka ekspose tersebut dengan menonjolkan keketatan pakaian. Bahkan ada yang lengkap dengan 2 bentuk itu; mempertontonkan sekaligus menonjolkan aurat.
Belum lagi kejahilan ini yang otomatis dilengkapi dengan tingkah laku (yang kata mereka selaras dengan mode pakaian tersebut). Na’udzubillahi min dzalik…
Allahu musta’an…
Mari kita takut pada ancaman Allah di akhirat dalam hal ini,
"Saat terbuai kenikmatan dunia ini, siapa tahu saat itulah akhir umur kita (ditutup dengan keburukan)"
"Dan siapa yang ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di neraka?"
Na’udzubillahi min dzalik…
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda…
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَتُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا. (رواه مسلم عن أبي هريرة، صحيح).
“2 golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataan-nya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah, shahih).
Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporak-porandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam.
Sebab diluar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahiliah
Mari kita menyimak, merenungi dan menaati firman Allah ini…
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون
َ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6).
Jangan Sampai Kita Terbuai Sehingga Berbuat Dzalim dan Kerusakan Dimuka Bumi yang Allah Amanahkan Ini
(Saat hidup; menjadi khalifah di bumi Allah ini)

“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (Al baqarah: 12)

“Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,…” (Al imran: 112)
Maksud tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia disini adalah…
Perlindungan yang telah Allah tetapkan dalam alquran dan perlindungan yang ditetapkan pemerintahan muslim atas mereka
(penjelasan dari program Holy Quran dari Assakhr)
Menjadi Seorang Hamba yang Benar-Benar Berbahagia
Dengan Sikap Senantiasa Berserah Diri (Islam)
Mari menyadari, kebahagiaan kita bukanlah pada besarnya rizqi yang Allah berikan, namun pada sebaik-baik sikap penerimaan kita pada setiap rizqi yang Allah ujikan dan amanahkan (baik berupa rizqi kesenangan maupun kesusahan);
“Terus menjadi seorang hamba yang benar-benar bersyukur dalam hati, ucapan dan perbuatan,
Membuktikan sebagai seorang hamba yang beriman yang berjuang terus-menerus tiada habis…“

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Al Baqarah: 112)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (At Taubah: 111)
Mari kita merenung…
”Apakah diri dan jiwa kita telah kita jual kepada Allah atau kita jual kepada dunia?”

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu” (At Taubah: 112)

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik (161) Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (162) tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah) (163)” (Al-An'aam 161-163)
Bersikap Sederhana Dengan Dunia, Memanfaatkan Dunia Hanya Sebagai Fasilitas Menuju Kebaikan dan Bermanfaat Bagi yang Lain serta Berusaha Beramal Dengan Yang Terbaik

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Al Furqan: 67)

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…” (Al baqarah: 267)


“…Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al Hasyr: 9)
************************************************************************************************************
Mari merenung kembali…
”Mencukupkan nikmat dunia sebagai kebun akhirat sekaligus sarana menghibur diri sejenak saat diri kita lemah dan letih, sekedar beristirahat mempersiapkan perjuangan selanjutnya…”
Wahai diri:
- “Tak perlu lagi merasa terbebani oleh apapun selain yang haq”
- “Perjuangn dimulai dari hal terkecil, kita lakukan dari diri kita, dan kita mulai saat ini…
- Bertahap, tak perlu terlalu memaksakan diri kita (melakukanya sekaligus sempurna)”
- “Lupakan bayang-bayang masa lalu kita (cukupkan sebagai nasehat), menuju hidup baru yang lebih jernih dan senantiasa bertaubat”
- “Mari kita jalani hidup sekarang dan esok sebagai hari baru, hari-hari terbaik kita, hari-hari paling bersejarah dan berkesan...”
- “Lupakan segala hal yang kurang nyaman (kurang menyenangkan), dari prasangka menuju keyakinan”
- “Hilangkan (atasi) hambatan atau kekurangan dalam diri kita”
- “Tidak perlu terlalu merasa kecewa; lihat keatas hanya dalam urusan kebaikan, agama dan ilmu”
- "Jangan lagi mempersulit dan memusuhi diri kita sendiri, buktikan prestasi terbaik kita, hadiahkan pada diri kita dihadapan Allah hal-hal terbaik dalam hidup kita yang singkat ini”
- “Jangan lagi terlalu kritis pada diri sendiri dalam urusan dunia”
- “Jangan lagi membiasakan menyalahkan apapun dan siapapun (termasuk pada diri sendiri), berusaha solusif, dan produktif (kita sendiri yang memulai)…”
- “Tak perlu lagi menyalahkan diri sendiri, yang penting kita terus berikhtiyar memperbaiki diri…
- “Akan selalu ada kehidupan baru yang terus tumbuh; lepaskan beban ketegangan masa lalu kita”
- “Jangan lagi mudah (berusaha atasi) stress, cemas, kalut dan