Bintang Cakrawala
(Menghidupkan kematian jiwa muda)
Bab kedua dari The Principles (My First Book & My Hidden Book)
Dia yang saat itu kutemui di padang gurun, duduk sendiri menatap hamparan pasir membentang luas, ia bertutur…
“Aku pengembara”
Sang pengelana Menyelami landai rata dunia
Siang-malam serta musim-musim menyusunya
Melewati jalan berliku, luasnya semesta adalah ujung duniaku
Arungi samudera raih ujung cakrawala Menempa jiwa meregang nyawa
Meloncat-loncat ia melintasi udara
Mengepak tanpa sayap
Menemani sungai berliku
Bersua dengan lautan ini dan kelak dilautan yang lain
Suatu saat ditengah belantara
Kadang dikeramaian kota
Didunia langit dan bumi
Dimana bertahtakan ia?
Selama bumi begitu luas
Kapan berdiam!
Selama langit masih memayungi
Selama masih ada tanah baru
Selama kaki bisa melangkah
Seraut wajahnya ia begitu belia
Tergores kegelisahan dimatanya
Lika-liku perjalanan dan tempaan masa
Kericuhan yang membuatnya tahu arti kembali
Betapa rindu kampung halaman
Setelah melewati puncak-puncak peradaban
“Aku memang kuncup muda”
Jiwa terpancung jauh diangkasa
Terjaga dari kantuk
Menatap cahaya dan wacana
Mantap diatas semak
Biasa berinjak dijalan setapak
~ ~ ~
Kegersangan itu yatim-piatu Ditengah hutan menangis
Meratap tuk dijelajahi seluruh tepi-tepinya
Tebing, jurang, gua-gua, rawa-rawa
Pohon serta daun dan akar-akarnya
Kami tunas muda, bersiap tumbuh menjulang keangkasa
Dengan segala kekayaan samudera
Sejuknya embun, terang cahaya-cahaya
Berjalan dibelantara mengikuti sumber pelita
Walau diremang senja
Terus bersujud raih cerlang sempurna...
Kembali ia bercerita panjang lebar…
"Roda selalu berputar dalam rimba selalu ada pertarungan"
Hidupku asyik berpetualang
Kematian adalah jalan pulang
Berkeluh-keringat kepuasan menyenangkan
Misteri hidup tempat latihan
Dikeheningan hati khusyu' dilabuhkan
Dipuncak jiwa sibuk menyimak alquran
Kritik, hinaan penampar kesadaran
Musuh adalah sahabat yang pasti didapatkan
Bodoh, dosa, ketidak-berdayaan menyalakan api perjuangan
Jatuh, gagal, berguguran membuat darah terus tertumpahkan
Cobaan adalah tantangan menyenangkan
Tragedi dan bencana bagian dari peristirahatan
Masalah itu teka-teki kesukaan
Hambatan adalah kesempatan
Keras berjuang itu nikmat dan harus didapatkan
Tiitk kritis adalah peluang untuk menang
Menyederhanakan masalah itu rumusku
Senyum ceria hadiah kehidupanku
Ide-ide segar bagian jiwaku
Meluruskan rel-rel perjalanan keharusanku
Hancurkan kebiasaan buruk fitrah perlawananku
Mempelajari orang sukses lalu melebihinya dasar langkahku
Suara yang dalam mutiara kehidupanku
Memulai semuanya dari satu ciri khasku
Memadukan otak kiri dan kanan keutuhanku
Membangun kejayaan dari puing-puing runtuh tantangan bagiku
Selalu bekerja cerdas itu kebiasaanku
Jadi diri yang mantap itu aku
Dalam jiwa yang tenang dan yakin itu duniaku
Tiada menyerah modal utamaku
Kuasai roda terus berputar latihan kelihaianku
Ubah batu penghalang jadi batu loncatan, "kubuktikan itu!"
Berbuat sama jelasnya dengan kata-kata itu tindakanku
Ciptakan kemungkinan-kemungkinan besar, kesempatan-kesempatan baru adalah bisnisku
Tetapkan diri terus maju itu tekadku
Melayani, membuat orang senang adalah kesenanganku
Ia mulai berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan kata-katanya…
“Memang akulah sang penantang, aku pulalah sang pemenang"
Dan semua adalah...
Belajar dan pelajaran
Apa yang kumengerti bisa kupelajari
Apa yang kuhadapi akan kukuasai
Dan ia mulai memberi nasehat-nasehat…
"Tidak tahu belajarlah
Tidak bisa bersungguh-sungguhlah
Mustahil cobalah..." [31]
Dan katakan,"Wahai jiwa tertatih bangkitlah!..."
Dan kepada Allah, "sujud, berdo'alah!"...
Tuangkan baja dari tungku-tungku
Satukan dijasad kita kecil dulu
Menyatu jiwa membakar raga
Hingga nyala hanya meneguhkan “siapa aku!”
Setiap panas itu anugerah
Merasuki terang benderang dengan cerah
Keputusan itu entah datangnya
Tak terbendung kekuatan selain untuk-Nya
Berdiam…
Aku dimana?
Dimana-manapun sama
Semangat, binasa, menyala
Menguap ia
Menembus ketinggian langit
Tak terbantahkan lagi
Tiada berbentuk