Abu's posts with tag: mypoems

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag mypoems
Blog EntrySang Bahagia ~"Berseminya Jiwa-Jiwa Muda"Jul 11, '08 1:37 AM
for everyone
Sang Bahagia
(Berseminya Jiwa-Jiwa Muda)
Bab keenam dari "The Principles" ( My First Book & Hidden Book)

[[Memohon perhatian teramat sangat]]:
Harap jangan terbuai dengan susunan kata didalamnya sehingga terjebak dengan struktur pemahaman filsafat atau tasawwuf. Mohon cukupkan addalil yang menyertainya, sebab itulah yang dimaksudkan (yang ingin disampaikan)
'afwan jika bahasanya memang agak rumit bagi orang 'awam, sebab ana sangat memperhatikan keindahan tata bahasa (rangkaian kata)
(Oh ya, berhubung adanya keterbatasan di MP, maka reference footnote disini hanya bisa sampai nomer 32 (aslinya sampai 97), untuk membaca nomer selanjutnya silahkan download attachment dibagian paling bawah artikel ini untuk membacanya)

Sungguh bahagia "Ia"
Begitu ia nikmati hidupnya [1]
Merasa cukup apa dipunya [2]
Syukur [3] meluncur ditiap patah kata...

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِ الْعَالَمِينَ

"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam" (Al Fatihah: 2) [4]

Syukur ini begitu asyik...

Perjuangan tiada habis...
Gundah-gulanapun gugur... [5]

Kedamaian [6] ini alangkah asyik... [7]

Menikmati nun jauh disana hamparan danau
Koloni teratai nan indah
Burung-burung pagi menyapa
Sejuk udara menemaninya pula
Sajak-sajak gunung begitu jelas
Merangkai lukisan indah...
  [8]

"Terpahat senyum ditiap tebing!..."
"Mendaki syukur ke puncak bukit!..."

Ah...
Begitu lepas...

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapapun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan cara tasbihnya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan(Q. S. An-Nuur: 41)

Kebahagiaan ini dalaaaaam sekali... [9]
Kala nafas kapanpun adalah cukup [10]

Tak perlu lagi berkejaran [11]
Kitapun akan segera berpulang [12]
Tetap sampai yang tak terjamah sekalipun

“Betapa berlebih karunia-Nya” [13]
 Bak untaian intan-permata...

Ia begitu bahagiaaaa... [14]

Bertahta berjuta intan permata [15]
Kesucian jiwa istananya [16]

Menyimak khusyu' alquran [17] dan penjelasanya [18]

Berbuat cukup sebagai kata-kata  [19]
Hati makmur berpendar cahaya [20]
Ketegasanya [21] ditakuti musuh-musuhnya [22]
Menerangi langkah [23] bersinar cemerlang [24]
Berjubah sulaman-sulaman istighfar

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

"Memohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun" (Nuh: 10)

Nuraninya cermin… [25]
Fitrah pencari kebenaran terus meneranginya
[26]

Petualangan [27] ini sungguuuuuh asyik... [28]
Ada sungai dihati melewati danau dan ngarai

Begitu terasa…
Kita disana
Bermuara ke hilir laut
Menyirami birunya dengan bening dan tawarnya jiwa kita
Menjadi lazuardi
Meresapi indah biru laut, untaian pulau-pulau kereta
Indahnya matahari senja  [29]

Jatuhlah daun-daun pohon keakuan... [30]
Kala musim gugur menyapa
Tiada lagi kesendirian [31], canda teman terus menggoda [32]

Daun-daun terpisah dari tangkainya

Tiada sepi lagi... [33]
Burung pipit sibuk bernyanyi
Anak-anak bersuka-ria dihalaman

Kepada diri, pohon aku kembali berujar panjang…

"Pohon hati, apa yang masih bisa kau beri?” [34]
“Cukupkah buah-buahmu menyegarkan kehidupan?” [35]
“Masihkah daun-daunmu menaungi pegunungan?” [36]
“Mampukah bunga-bungamu menarik kupu-kupu datang?” [37]
“Cukupkah madumu memberi nyala kehidupan?” [38]
“Apa pula dari pohonmu belum kau berikan?" [39]
“Apa lagi bisa kau baktikan!!!” [40]

Pohon aku tak pernah peduli apa akan dibalaskan [41]
Tak mengenal apa itu asap, kotoran, kerak sampai sampah dan racun akan rela ia terima [42]

Ubah semua jadi hijaunya dedaunan, segarnya buah-buah, tawarnya air tanah yang tersimpan [43]

Begitu sejuk menyegarkan...
Berkumpul di hilir berjumpa lautan...

Dan kupu-kupu menyahut…
Oh hidup... [44]
Cintaku padamu sederhana [45]
Setahu yang kubisa [46]
Kupu-kupu menyercap sepuasnya [47]
Senikmat mungkin ia
Tahu mengapa harus diam [48] khusyu’...  [49]

Mendengarkan sepenggal kisah waktu
"Ummat-ummat yang Allah muliakan, ummat-ummat yang Allah musnahkan..." [50]

Oh hidup…
Hidup sekali saja,

Menikmati pahit-getirnya hidup [51], madu racunya hidup [52]
Menikmati kerikil tajam sandungan hidup [53]
Menikmati kesulitan tantangan hidup [54]
Menikmati resiko derita hidup [55]
Menikmati mengapa harus bersaing [56], bersanding dalam hidup [57]

Menikmati kerasnya membanting tulang [58]
Menikmati puasnya berkesungguhan [59]
Menikmati khusyuknya pengorbanan, pengabdian, persembahan [60]
Menikmati betapa agungnya kesahayaan [61]
Menikmati kerinduan, kepasrahan [62]
Serta menikmati untaian cinta dan kasih-sayang [63]

"Menikmati betapa manisnya apel segar yang dipetik dari percabangan ranting kehidupan"
Pohon-pohon nan menjulang

Menyicipi sepenuh keridhaan… [64]

Kupu-kupu kembali berujar...
Oh betapa manisnya aduhai indahnya, puas...
Cukup puas bermimpi, bercanda, bersenandung

Membaca alquran menggegerkan gunung [65]
Hidupkan sunnah-
sunnah nan agung...

Tentang kisah para nabi...
Tentang para sahabat dan orang-orang pilihan [66]
Bercerita tentang negeri impian...
Tentang sebuah bibir…

Hanya senyum ceria layak menghuninya
Senyum simpul saja
Tenggelam dalam mutiara hatinya...
"Apa yang diciptakan-Nya takkan hilang keindahanya"
[67]

"Oh, denyut yang mampu memekarkan kuncup habis berbunga..."

Tiada sedih tiada perlu tawa berlebih [68]
Apa yang perlu disedihkan, apa pula akan ditertawakan? [69]

Yang ditertawakan takkan lama
Yang disedihkan segera binasa

Hidup ini mengapa! [70], sedang
jiwa kita ditangan-Nya... [71]

Hadapi saja penuh ketegaran jiwa
Semua begitu berharga
Kita adalah hadiah bagi sesama
Disana... "syurga-syurga kecil menanti kita"

Pohon itu kembali berkata
Lalu nikmatilah...
Karena ini seni romantika
Perhalus penuh belaian rasa
Apakah puitis, naratif atau perfeksionis, terserah...

Mari i'tikaf; "Hiasi penuh ayat-ayat terpilih!"... [72]

Buat diri kita bahagia, maka tersenyumlah!...   
(“He he... ini dewasa")   ^ - ^

Menyadari akan dunia

"Dimana derita kesenangan sesungguhnya?" [73]
Tampak sepanjang jalanya... bayang-bayang fatamorgana  [74]

"Ujian itu nikmat, nikmat itu ujian pula!" [75]

“Aku harus berubah!”, [76] teriak kupu-kupu itu keras

Aku harus kupu-kupu terbang lepas
Menari indah kemanapun pergi
Mengikuti angin menari-nari
Menyercap sari menemani bunga-bunga

"Terus dalam teguh agama!…"
[77]

Wewangian ini haruuuuum sekali...
Meresapi harumnya tiap desah nafas
Meresapi harumnya semerbak kembang...

Bernafas pelan
Ah ……………..
Betapa harum…

Mengabdi tiada menuntut apa-apa [78]
Mengharap wajah-Nya

Terus tunduk menghamba
Bersama curahan-curahan langit
Tawaddhu' [79] bersahaja

Bersimpuh pasrah…
Bersemayam diperistirahatan lelah

Meresapi tiap ayun lidah
Meresapi tiap desah nafas
Meresapi tiap cetusan akal
Meresapi tiap detak jantung
Meresapi tiap ubah urat
Meresapi tiap mengalirnya darah
Meresapi tiap bara kehidupan

"Serta pada semua kejadian dan ciptaan-Mu" [80]

“Betapa hikmah [81] dibalik semua itu!”
"Betapa sempurna-Nya Engkau!"
"Maha suci Engkau!"  [82]
"Yaa Allah..." [83]

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka"  (Al Imran: 190-191) [84]

Lalu diam tiada bergeming
Terpekur menyendiri [85]
Berundur dari detak nadi
Menjaga aku, jarak akan aku [86]

Karena dia yang tlah pergi
Semua akan berlalu…

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS An-Nahl: 96)

"Tiada tugas belum selesai, tiada harap belum tercapai…
Semua sirna menuju kepastian [87]
Walau bukanlah titik akhir, ia takkan menyelesaikan sebuah episode kehidupan

Hidup terus mengalir
Menuju kepastian [88]

"Dan Kepada-Nya-lah [89] kita semua kembali..." [90]

Mari nikmati tiap perjumpaan...

Waktu-waktu shalat [91] yang Allah karuniakan [92]
Tiap saatnya kesempatan kita terus beramal [93]

Semua terdiam...

“Bunga berguguran...
Kala kita tak ingin kehilangan atasnya
Dan tunas-tunas barupun bermunculan [94]
Kala kita merindukanya
Musim berbungapun tiba...
[95]
Dan juga rerumputan tumbuh dengan sendirinya..."
 [96]

Dan akupun bermimpi
Mulai bermimpi, mimpi yang baru lagi..
.
[97]


Abu Bustham Muhammad Ulinnuha

(Hari-hari begitu bahagia, bersyukur masih Allah beri kesempatan...)
"Yaa Allah jika Memang baik bagi kami semua, beri kesempatan hamba menyelesaikan tulisan ini.
Namun sekiranya tidak, Engkau maha tahu yang terbaik bagi diri-diri kami..."

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

اللَّهُ الصَّمَدُ

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (2) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, (3) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (4)“ (Al-Ikhlas: 1-4)

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

[1] وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl: 53)

Mari kita memahami, kebahagiaan kita bukanlah karena rasa senang mendapat apa yang kita inginkan. Tapi karena sikap kita yang senantiasa senang (ridha dan bersyukur) atas segala apa yang Allah amanahkan (baik karunia berupa nikmat maupun kesusahan)

Maka kita tak perlu heran jika kebahagiaan seringkali bersemayam didada simiskin (dari pada si kaya)

[2] Dari Abul 'Abbas Sahl bin Sa'd As-Sa'idiy radhiyallahu 'anhu berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ: اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

"Datang seseorang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu dia berkata, 'Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku akan suatu amalan yang apabila aku mengerjakannya niscaya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia?' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia niscaya manusia mencintaimu'" (Shahih, HR. Ibnu Majah dan selainnya, lihat Shahiihul Jaami' no.935 dan Ash-Shahiihah no.942)

Berkata Ibnul Qayyim, "Zuhud mengandung arti berpaling darinya dengan meremehkan dan merendahkan keadaannya karena sudah merasa cukup dengan sesuatu yang lebih baik darinya"

Beliau juga berkata, "Saya mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, 'Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat di akhirat, adapun wara' adalah meninggalkan apa-apa yang ditakuti akan bahayanya di akhirat'.
"Kemudian beliau mengomentarinya, "Ini adalah definisi yang paling baik terhadap makna zuhud dan wara' dan yang paling mencakupnya"

"Berkata Al-Hasan dan lainnya, "Tidaklah zuhud terhadap dunia itu dengan mengharamkan yang halal dan tidak pula dengan menyia-nyiakan dan membuang harta, akan tetapi hendaklah engkau lebih tsiqah (mempercayai) terhadap apa-apa yang ada disisi Allah daripada apa-apa yang ada disisimu, dan hendaklah engkau -apabila ditimpa musibah- lebih mencintai pahala dari musibah tersebut daripada engkau tidak tertimpa musibah.
Ketika ada seseorang bertanya kepada Al-Imam Ahmad, "Apakah orang kaya bisa menjadi orang yang zuhud?" Beliau menjawab, "Ya, dengan syarat ketika banyak hartanya tidak menjadikannya bangga dan ketika luput darinya dunia dia tidak bersedih hati."

Jadi zuhud itu adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat di akhirat, adapun hal-hal yang bermanfaat seperti menikah, mencari nafkah dan lainnya maka ini semua tidaklah mengurangi zuhudnya selama hatinya tetap terikat dengan akhirat

Mari kita memahami, rasa puas akan membuat kecanduan (diri kita terikat) dan kehidupan jadi berhenti, sedang cukup adalah sumber bahagia yang sesungguhnya, dengan puas (bersyukur dan bertawakkal setelah kita berikhtiyar sebaik-baiknya) seberapapun yang Allah berikan kepada kita”  (takaran yang terbaik menurut Allah)

Maka saat kita terikat dengan sesuatu keduniawian (hal yang ada diluar diri kita dan hal diluar urusan kepada Allah), berarti kita telah menghancurkan diri kita sendiri

[3] وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji" (Q.S. LUQMAN:12)
[4] Diantara fadhilah ayat ini:

Memuji disini berarti menyanjung Allah atas segala kebaikan Allah
Rabb adalah tuhan yang ditaati, mendidik dan memelihara
Semua yang ada selain Allah disebut alam (makhluq) dan kita termasuk bagian dari alam ini

[5] لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَ

"…Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita…" (At-taubah: 40)

[6] الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra’d: 28)
[7] Dari Jabir bin 'Abdillah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke pasar dari tempat yang tinggi sedangkan manusia ada di sekitarnya, lalu beliau melewati seekor bangkai kambing kacang yang kecil kedua telinganya, kemudian beliau pun mengambilnya dan memegang telinganya seraya bersabda, "Siapakah diantara kalian yang mau membelinya dengan satu dirham?" Maka mereka pun menjawab, "Demi Allah, seandainya hidup, kambing itu pun mempunyai cacat karena kedua telinganya kecil, maka bagaimana (kami mau membelinya) dalam keadaan kambing itu sudah menjadi bangkai?! Maka Rasulullah pun bersabda, "Demi Allah, sungguh dunia itu lebih hina dan rendah di sisi Allah daripada bangkai ini atas kalian" (HR. Muslim dalam Kitaabuz Zuhd, lihat Syarhnya 5/814)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelupkan ke laut, maka lihatlah apa yang dibawa jari tersebut!" (Lihat Shahiihul Jaami' no.5423)

Mari kita memahami (sebuah langkah):

1. Kuatnya ke-imanan kita, serta menghadirkan diri seolah-olah menyaksikan apa-apa yang disisi Allah, dan menyaksikan dasyatnya hari pembalasan maka akan melemahkan kecintaan kita serta rasa nikmat terhadap dunia di hati kita, sehingga kita bisa berpaling dengan mencukupkan yang sedikit darinya
2. Mari kita memahamai bahwa dunia ini akan menyibukkan hati kita dari terikat kepada Allah dan menjadikan kita terlambat mencapai tingginya derajat diakhirat
Dan kita kelak akan ditanya tentang kenikmatan yang telah Allah amanahkan

"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)" [At-Takaatsur:8]
3.
Dunia tidak akan kita dapat kecuali dengan bersusah-payah untuk mendapatkannya, mengerahkan segenap kemampuan, tenaga dan pikiran, dan itupun masih juga mengalami kerendahan (kegagalan) dan harus terus bersaing dengan yang lain

"Andai saja kita juga mengerahkan tenaga dan pikiran tersebut untuk mencari ilmu agama, berdakwah, berjihad dan beribadah kepada Allah"

Maka perasaan inilah yang akan membuat hati kita cemerlang; menjadikan kebosanan jika sekedar urusan dunia, kita hadir disana untuk membangunya (memuliakanya) dan mengalihkan pada sesuatu yang lebih baik (kekal) disisi Allah

[8] مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَ‌ٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (Al hadid: 22)

[9] وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi didalam surga, yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”(QS. Al-Ankabuut: 58)

[10] لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Agar engkau tidak berputus asa atas apa yang hilang darimu dan merasa senang dengan apa yang ada padamu” (QS Al-Hadiid: 23)

[11] وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ

Berapa banyak binatang melata yang tidak sanggup membawa rejekinya (makanan kebutuhannya), Allah-lah yang menjamin rejekinya, juga terhadapmu  (Al Ankabut: 60:)

[12] أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu didalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (An Nisa’: 78)

[13]  وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya (QS Annahl: 18)

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“…Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya…” (Ibrahim: 34)
[14] Mari kita berbahagia dengan berlaku sebagaimana orang yang berbahagia;

1. Manfaatkan waktu kita sebaik mungkin: buat rencana besar dan pecah-pecah jadi bertahap, lalu kita jalani sepenuh penjiwaan dan rasa senang

"Isi hidup kita dari kebaikan menuju kebaikan selanjutnya"

2. Perbanyak aktivitas kita dan nikmati tantanganya, terus aktif mengejar cita-cita penuh keceriaan

"Senantiasa mengingat niat beribadah kepada Allah dan menyucikan i'tikad kita"

[15] مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain…”  (Al Isra’: 15)
[16] "Ya Allah berikanlah ketaqwaan kepada diriku ini dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkau adalah Penolong dan Tuannya. (HR Muslim. 2722)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Al baqarah: 222)

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” (Q.S. ASY-SYAMSY: 9)

هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ

وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ

"Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu, agar supaya kamu takut kepadaNya" (QS An Nazi'at: 18-19)

Ibnul Qayyim mengatakan, "Tazkiyatun nufus itu lebih sulit dan lebih rumit dibandingkan dengan perawatan dan pengobatan badan. Barangsiapa berusaha mensucikan dirinya dengan jalan riyadhah, mujahadah dan khalwat yang tidak diterangkan oleh Rasul, maka perumpamaannya bagaikan orang sakit yang ingin mengobati dirinya dengan pendapatnya sendiri.Bagaimana bisa pendapatnya akan sesuai dengan ilmu seorang dokler? Para rasul adalah dokter hati dan jiwa. Maka tidak ada jalan untuk kesuclan jiwa dan keshalihan hati, kecuali dengan melalui jalurnya, lewat bimbingannya dengan penuh ketundukan dan kepasrahan kepadanya (Madarijush Shalihin, 2/31)

[17] وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al an’am: 115)

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَ‌ٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An Nisa: 59)

[18] وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“… Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka…” (An Nahl: 44)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (Al-Hasyr: 7)

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” (At-Taubah : 128)

[19] وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Manusia tidak akan memperoleh sesuatu selain dari apa yang telah diusahakannya" (An Najm: 39)

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri…” (Q.S. AL-ISRA’:7)

[20] وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al Maidah: 44)

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـٰذَا حَلَالٌ وَهَـٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” (An nahl: 116)

[21] وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (Q.S. AL-’IMRAN:139)

وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Tidak ada do`a mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (Q.S. AL-’IMRAN:147)

[22] وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَـٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“…Padahal kemuliaan (kekuatan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu'min…” (Al Munaafiqun: 8)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَـٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur” (Fathir: 10)

Diantara fadhilah juga:

Kemuliaan berasal dari Allah dan hanya tercapai dengan menyandarkan diri pada amaliah yang Allah ridhai dan bukan pada mengahrap ridha sesama makhluq
Cara mencapai kemuliaan adalah dengan beriman dan beramal shaleh sebagai bukti bertauhid pada-Nya, hanya pada Allah tempat meminta dan hanya pada-Nya tempat memohon pertolongan

[23] وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya” (QS. Al-Israa’:36)

[24] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (Al Maidah: 35)

[25] وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui” (Al baqarah: 42)

[26] إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (Q.S. AL-INSAN:3)

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

““Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) (7) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (8) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10)  (Q.S. ASY-SYAMSY:8)

[27] وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Al Imran: 104)

Maksud ma`ruf disini adalah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah sedang munkar adalah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah

[28] Jika semua impian dan petualangan kita masih juga belum menuai kenyataan, mari berhenti sejenak, pikir mendalam. Lalu tulis apa yang perlu kita lakukan dan jangan baca sebelum kita tumpahkan segala yang ada dibenak…”
[29] Mari kita memahami, hidup akan memberi pada yang mau menerimanya (bukan pada yang akan membuangnya)

Maka mari kita terus tumpahkan gairah, bakar semangat dan terus senyum gembira
Maka tubuh kita-pun akan lebih tahan lama dan jiwa terus berbahagia

[30]Orang yang paling dicintai oleh Alloh ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan)